PILKADA
SERENTAK
positif
1.
Ketua Bidang Studi Hukum Tata Negara
FHUI, Fitra Arsil menjelaskan penyelenggaraan pemilu dikatakan serentak jika
pemilihan presiden putaran pertama atau satu-satunya putaran dalam pemilihan
presiden dilaksanakan pada hari yang sama dengan pemilihan anggota legislatif.
Pemilu serentak menjadikan sistem presidensial efektif. Pasalnya, dengan pemilu
serentak, maka seorang presiden terpilih akan memperoleh dukungan yang besar di
lembaga legislatif. Pemilu serentak menguntungkan partai yang memiliki calon
presiden
2.
Indonesia dapat mencontoh pelaksanaan
pemilu serentak yang banyak digelar di kawasan Amerika Latin. sekitar 12 dari
18 negara di kawasan Amerika Latin sudah menerapkan pemilu serentak
3.
Pelaksanaan pemilu baik pemilu legislatif
maupun pemilu presiden dan wakil presiden yang selama ini dilakukan terpisah
(tidak serentak) dinilai tidak efisien. Selain biayanya yang sangat besar,
pelaksanaan pemilu tidak serentak telah menimbulkan kerugian hak konstitusional
warga negara sebagai pemilih.
4.
pelaksanaan pemilu secara serentak
selain efisien (hemat) dapat mendidik para pemilih menjadi cerdas. Cerdas yang
dimaksud Gazali, dengan menerapkan sistem presidential coattail dan political
efficacy (kecerdasan berpolitik). Presidential Coattail, setelah memilih calon
presiden, pemilih cenderung memilih partai politik atau koalisi partai politik
yang mencalonkan presiden yang dipilihnya. Kalau presidential coattail, pemilih
memilih presiden sama dengan pilihannya untuk anggota DPR dan DPRD dalam satu
partai.
5.
setiap warga negara dapat membuat peta
dibenaknya tentang check and balances versi pemilih. Kalau pemilu tidak
serentak seperti sekarang, ada campur tangan parpol untuk menerapkan sistem
threshold (ambang batas 20 persen dan 25 persen). Pemilu serentak juga untuk
menghemat anggaran, seperti biaya politik, biaya kampanye. Hitungan-hitungan
banyak pihak itu bisa hemat sampai Rp120 triliun.
6.
pilkada serentak adalah perencanaan
pembangunan lebih sinergi antara pusat dan daerah.
7.
negatif
1.
pelaksanaan pemilu serentak berpotensi
menjadi masalah jika pilpres berlangsung dua putaran. Menurut Fitra, pilpres
dua putaran akan membawa konsekuensi banyaknya pasangan capres-cawapres yang
bertarung. Dampak lanjutannya adalah parlemen akan terfragmentasi cukup tinggi
karena konfigurasi ini memberikan peluang kepada banyak partai untuk
mendudukkan calonnya di parlemen.
2.
Apabila banyak partai di parlemen, maka
kemungkinan munculnya partai dominan menjadi kecil dan terjadi fragmentasi yang
tinggi (multipartism). Dengan demikian, konsensus dalam proses pengambilan
putusan di parlemen akan menjadi sulit. Harapan menghasilkan struktur parlemen
yang kongruen dan dukungan legislatif yang kepada presiden dapat terhambat jika
pemilihan presiden dua putaran masih berlaku
3.
Dari segi daya tahan koalisi, pemilu
serentak yang akan dipadukan dalam pemilihan presiden dua putaran juga akan
menciptakan situasi yang tidak kondusif bagi koalisi. Karakter koalisi di
putaran kedua tentu banyak didominasi pilihan-pilihan pragmatis daripada agenda
kebijakan dan program memerintah karena koalisi lebih terpengaruh suara.
4.
kepemimpinan pemerintahan daerah banyak
yang dipimpin penjabat (Pj) yang lamanya sampai 2 tahun, sehingga kurang
efektif. Pilkada serentak memenuhi kriteria efektif dan efisien apabila
pemilihan gubernur dilakukan secara langsung oleh rakyat (1 pemilihan 2 kertas
suara).
5.
Selanjutnya, jika terjadi ekses pilkada
(kerusuhan) yang bersamaan mengancam stabilitas nasional, penanganannya
membutuhkan sumber daya yang besar termasuk dana dan gelar pasukan yang belum
merata di seluruh daerah. Selain itu, pengawasan pilkada relatif sulit. Dan,
tidak ada referensi penyelenggaraan
pilkada serentak di negara lain.
Tabel 1:
Sistem Pemilu dan Dukungan Legislatif: Dua Dimensi Utama
|
Formula Pemilihan Presiden
|
Waktu Pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden
|
|
|
Serentak (Concurrent)
|
Terpisah (Non-Concurrent)
|
|
|
Plurality
|
Tingkat Mutipartai rendah. keterkaitan yang tinggi antara
pilpres dan pileg
|
Tinggi multipartai. tidak ada kaitan pilpres dan pileg
|
|
Major Runoff (MRO)
|
Tingkat multipartai moderat hingga tinggi. keterkaitan
yang tinggi antara pilpres dan pileg
|
Sangat tinggi multipartai. taka da kaitan pilres dan pileg
|
Sumber:
Jones (1995)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar